2 September 2015

When Mood Swings You

Posted by Icha Anindya at Wednesday, September 02, 2015 0 comments
Sepupuku Dede pernah masang gambar ini di DP BBM-nya.



Dan aku ketawa.

Aku ndak ngerti penjelasan secara psikologinya, tapi faktanya emang aku bisa merasakan semua yang digambarkan emot-emot itu dalam satu hari. Bangun pagi moodnya biasa aja, terus jam 10-an gitu agak turun, terus siang melting-melting nonton gebetan baru si cowok Turki yang namanya Ayaz (#infondakpenting), abis itu nangis, abis itu emotionless, abis itu senyum-senyum liat foto-fotonya almost-real OTP, ketawa-ketawa nonton RM, terus tidur.

Kalo yang baca ini seorang cowok, pasti bakalan cape banget ngebayanginnya :')))))

Oh ya, dalam hari-hari normal aja hal seperti ini sering terjadi, apalagi pas PMS. Kalian akan menemukan bahwa perubahan mood kami tak ubahnya grafik takikardi :p

Sebenernya mood swing begini ndak bagus buat seorang wanita, for me especially, yang mana kualitas kegiatannya hampir selalu dipengaruhi level mood. Dan setelah bertahun-tahun, kali ini aku benar-benar menyadari hal krusial terkait mood swing ini.

Kalau moodku jelek karena lagi marah atau ngambek, aku akan sangat senang diberi pekerjaan yang membutuhkan otak kiri. Aku akan mendadak jadi sangat lancar mengerjakan soal atau, dulu, mengerjakan tugas kuliah dan nggarap tesis. Pokoknya tiba-tiba pinternya jadi nge-boost, otaknya tiba-tiba mletik. Beberapa bulan yang lalu aku mau tes microteaching dan nervous-nya setengah mati. Akhirnya aku becanda sama Mas Radif, aku mau dinakali biar ngambek dan marah, biar pas tes aku jadi pinter :D

Sebaliknya, bad mood menghambat kemampuanku melakukan hal-hal yang membutuhkan 'rasa'. Aku punya proyek handmade baru dan hari ini entah kenapa tanganku jadi 'keriting' dan hasil pekerjaanku jelek semua. Waktu masak juga gitu, butuh berulang kali adjust bumbu sampe rasanya pas. Untung hasilnya pas dan enak. Lalu aku paham kenapa chef cewek lebih sedikit jumlahnya dibanding cowok. Kalo cewek PMS masak, garam sama gula bisa ketuker. Kalo masak di restoran dalam kondisi begitu, tamu-tamunya bisa baku pukul. Chef cewek profesional pasti punya self-control yang luar biasa levelnya.

Kayanya PR-ku selanjutnya adalah belajar mengendalikan diri biar Hulk-nya ndak muncul sakkarepe dhewe. Atau lewat belokan lain, biar lagi badmood, kerjaan pake otak ataupun perasaan hasilnya bagus semua.

11 August 2015

Fire Tests Gold

Posted by Icha Anindya at Tuesday, August 11, 2015 0 comments
Dulu waktu mau lulus SMA, aku masih terobsesi jadi dokter. Pilihan pertamaku untuk ujian masuk universitas ya Pendidikan Dokter. And after weeks, even months of studying like crazy, I didn't get it. Waktu mau ujian masuk universitas juga, kumasukkan nama universitas impianku di pilihan pertama. Setelah mencoba tiga kali sampai jiwa ragaku babak belur, I didn't get it.

Aku kuliah di tempat yang tidak terlalu kuharapkan, di jurusan yang kusukai tapi bukan yang sangat kuinginkan. Dan saat mau skripsi, aku bisa dibilang mahasiswa yang nyaris terakhir mendapatkan judul. Bukan apa-apa, saat itu dosen yang membuka proyek yang kuincar cuma sedikit, bahkan nyaris tidak ada.

Setelah lulus, aku harus menunggu setahun setelah lulus untuk bisa masuk S2. Jadi mahasiswa season 2, klimaks season 1 terulang lagi. Aku harus pontang-panting dan dilempar ke sana kemari sampai jiwa raga babak belur lagi demi mendapatkan proyek untuk tesis.

Kali ini fase hidupku sedang nyebahi seperti sebelumnya itu. I don't know where this road will take me to. Aku disibukkan dengan mencari apa yang kuinginkan, apa yang jadi tujuanku, apa yang kusukai dan itu semua ternyata sanggup membuat kepalaku pusing. It feels like Allah is testing me. Dan ujian yang berasal dari diri sendiri cukup buruk juga ternyata.

Sampai kemudian aku bertanya pada diriku sendiri. Yakin lagi diuji, Cha? Bukan lagi ditanya? 

Dan setelah merenung dan merunut, mungkin memang benar. 

Apa yang benar-benar kamu sukai, Cha?
Apa yang benar-benar kamu inginkan, Cha?
Kamu maunya jadi apa, Cha? 

Tapi ya mungkin iya juga, aku lagi diuji. Diuji seberapa keras kepalaku, seberapa keras kemauanku, seberapa persisten aku dengan apa yang aku mau, dan seberapa mempeng usahaku untuk mendapatkan itu. Plus berapa banyak keikhlasanku di saat yang bersamaan.

Dulu juga begitu kan? Aku dibelokkan, dikasih hambatan, digimanain sebegitu rupa, tapi pada akhirnya aku mendapatkan apa yang kuinginkan, hanya karena aku tidak menyerah, berani mengambil pilihan dan sedikit keras kepala.

Ada—bahkan banyak—saat ketika hidupku begitu ruwet, berliku, naik turun, lewat polisi tidur, kejebak macet, pengalihan lalu lintas, kehabisan bensin, kebanan, mesinnya mlepeg, dan sebagainya sehingga rasanya susaaaaaaaah sekali sampai ke tujuan. There were times when it was so damn difficult to achieve something, sometimes even almost impossible, as if I was never destined to get that. Reality was too painful to face and dreams were even unreachable. Saking seringnya bahkan aku sampai ndak bisa ngitung.

But somehow I could overcome that. Dan apa yang kudapat melebihi ekspektasiku sebelumnya.

Aku ndak jadi masuk Kedokteran, tapi di Biologi track record-ku ndak buruk. Malah sekarang jadi cinta setengah mati. I can't live without it. Meskipun biologinya tetep ke-medis-medis-an juga sih :D

Aku ndak jadi masuk S1 di univ yang aku pengen dari SMP, tapi aku akhirnya berhasil 'balas dendam'. Aku bisa S2 di sana dengan bahagia. Tentu dengan kekeraskepalaan yang kalau orang tahu, aku sudah pasti kena sambit sendal jepit. Dikasih kesempatan scholarship ke Australia kutolak (padahal LoA dijamin langsung turun dan pengurusan sudah dijamin lancar jaya), terus seleksi beasiswa ke Jepang kulepaskan begitu saja di tengah jalan (padahal sudah lolos seleksi 1), demi masuk ke univ yang aku mau. Ternyata di sini aku dapat teman yang level kewarasannya setingkat denganku, ketemu orang-orang yang hebat, dan belajar hal-hal baru yang priceless. Kalau dulu aku kuliah S1 tidak di almamater S1-ku, mungkin aku akan end up di luar negeri atau di antah berantah dan takkan mendapatkan apa yang kudapatkan sekarang.

Meski dilempar pontang-panting ke sana kemari, aku bisa dapat proyek penelitian untuk skripsi dan tesis sesuai keinginanku, dengan kekeraskepalaan yang di luar kewajaran juga. Dapat dosen pembimbing dan teman-teman satu penelitian yang luar biasa kompak. Waktu ujian juga lancar dan 'terusir' dari kampus dengan selamat, tepat waktu, dan hasil yang pantas disyukuri.

Masalah cinta jangan ditanya. 23 tahun jadi cewek yang ditolak semua cowok dulu, baru akhirnya ada yang suka padaku. Orangnya high quality lagi <3

Aku teringat salah satu ungkapan Latin yang kudapat di novel yang kubaca beberapa waktu lalu. Ignis aurum probat. Fire tests gold. Api menguji emas. Kesulitan menguji kekuatan dan karakter seseorang. Kurasa ujian dan pertanyaan-pertanyaan ini juga begitu. Mungkin aku disiapkan untuk sesuatu yang sangat sangat besar, sesuatu yang sangat kuinginkan dan Allah harus tahu apakah aku benar-benar siap menerimanya sebelum memberikannya padaku.

Fase merenung-dan-mencari ini memang menyebalkan dan mentally exhausting. Aku ingin melakukan sesuatu sambil mencari tapi kok ya tetep susah menemukan sesuatu yang bisa membuatku nyaman. I don't give up on my dreams, not yet, meskipun di satu sisi rasanya batas antara mimpi dan kenyataan makin jelas saja dari hari ke hari. Mungkin aku perlu menambah usaha, kekeraskepalaan dan keikhlasanku sedikit lagi. Semoga saja aku bisa cepat menemukan jawabannya biar setidaknya arah hidupku ndak terlunta-lunta :)

22 July 2015

Catatan Lebaran #1: The Observer

Posted by Icha Anindya at Wednesday, July 22, 2015 0 comments
Eid Mubarak! Maaf lahir batin, semuanya :)

Meski Lebaran tahun ini kuhabiskan bersama para sepupu di bagian barat pulau, dengan jujur dan berat hati harus kukatakan bahwa Lebaran kali ini sama sekali tidak meninggalkan kesan manis bagiku. Aku bisa banyak mengeluh kalau mau, dan aku memang beberapa kali mengeluhkan situasi yang hambar ini, tapi nyatanya keadaan tidak bisa diubah dan entah bagaimana aku justru menemukan hal-hal yang cukup membuat diriku sendiri terkejut.

Entah apakah aku sudah semakin dewasa (faktanya aku berulang tahun beberapa hari yang lalu :p) atau karena energiku habis (mengingat bahkan sebelum traveling aku sudah mondar-mandir ke sana kemari), surprisingly aku berhasil menahan mulutku menjadi liar. Itu jelas jauh lebih baik dari yang bisa kuharapkan. Dan sebagai gantinya, mata dan telingaku (dan tentu saja perutku :p) bekerja lebih efektif dalam beberapa hari itu.

Tidak banyak hal yang kucurhatkan pada saudara-saudaraku kemarin, bahkan nyaris tidak ada, padahal aku sudah menyiapkan banyak bahan cerita untuk quality time kami. Selama di sana, aku sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu, tapi sesampainya kembali ke rumah, aku sadar kalau mungkin memang tidak ada hal yang perlu diceritakan, tidak sepenting itu sampai perlu dibahas dan diceritakan. Bukan hanya itu. Selama di sana aku melihat bahwa saudara-saudaraku sibuk dengan dunianya sendiri, baik itu dunia yang mereka ciptakan sendiri (gadget, TV, ngelamun) atau dunia 'paksaan' (disuruh bikin teh padahal sebenarnya yang nyuruh bisa bikin sendiri, dipanggil ke sana kemari, ditarik ke hotel sementara yang lain berkumpul di rumah, dan sebagainya). Aku tidak menghakimi dan memang tidak berhak menghakimi. Aku juga tidak terang-terangan meminta mereka untuk menciptakan quality time seperti yang kuharapkan ketika kami bisa berkumpul begini. Entah bagaimana aku bisa diam dan mengamati. Tapi seperti yang kau tahu, kau bisa mengendalikan mulutku tetap diam, tapi tidak dengan pikiranku. Aku menilai semua itu dalam pikiranku, menempatkan penilaian untuk setiap orang dan membiarkannya tidak terkonfirmasi.

Kurasa memang benar, ketika sedang diam, kau bisa menjadi observer yang luar biasa baik. Dan fokus pengamatanku kemarin adalah para orang tua. Aku mengamati bagaimana om-tante dan pakde-budeku bersikap. Aku mendengar apa yang mereka katakan, memperhatikan gaya bahasa dan intonasi yang sering mereka gunakan, bagaimana mereka bicara dengan anak-anak mereka, bagaimana mereka sedikit-sedikit memanggil untuk meminta anaknya melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dikerjakan sendiri atau ditunda, bagaimana mereka membuat orang lain terburu-buru ketika itu berkaitan dengan kepentingan mereka sementara di sisi lain kelewat santai padahal ada orang lain yang butuh kepentingan, siapa berpikiran seperti apa, dan bagaimana akhirnya anak-anak mereka meniru apa yang mereka lakukan.

Ada kalanya aku mengernyitkan dahi melihat apa yang kutemukan, ada kalanya juga aku mengangguk dan tersenyum sendiri. Observer punya keuntungan, kami bisa menyimpan rasa setuju dan tidak setuju. Kami tidak mengungkapkannya, kami melakukannya. Kami akan meniru apa yang kami setujui, tapi ketika ada hal yang tidak kami setujui, siapapun takkan bisa memaksa kami untuk melakukan hal yang sama.

Bisa dibilang Lebaran tahun ini aku tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang yang kujumpai, akan tetapi di sisi lain aku mendapatkan lebih banyak pelajaran. Aku tidak puas dengan acara Lebarannya, tapi aku puas dengan diriku sendiri. Aku puas dengan apa yang kuperoleh. Mungkin memang benar, sesekali aku perlu menutup mulut dan lebih banyak membiarkan mata dan telingaku berkelana. Itu kalau aku mau jadi sedikit lebih bijaksana.

17 May 2015

Ngumpet-ngumpet

Posted by Icha Anindya at Sunday, May 17, 2015 0 comments
Aku wanita, tapi sejujurnya aku ndak pernah paham cara berseteru ala wanita.

A punya masalah dengan B. Lalu A curhat via BBM ke C sementara B telponan curhat sejam lebih sama D. Kalau A dan B bertatap muka, mereka saling melempar senyum manis dan sapaan mesra bahkan cipika cipiki, tapi asal tahu saja, sebenarnya tangan mereka sudah dalam posisi siaga menampar muka lawan bicara.

Wanita, katanya, jago menyimpan perasaan, termasuk perasaan marah, kesal, betrayed, dan semacamnya. Makanya kalau wanita berseteru, mereka akan mencari pendukung instead of menyelesaikan masalahnya sesegera mungkin. Terjadilah perang sembunyi-sembunyi. A dan pendukungnya diam-diam membenci B, begitu juga sebaliknya. Sampai sangkakala ditiup dua kali juga ini perang ndak akan beres.

Kadang kupikir alangkah indahnya sebuah perseteruan jika diselesaikan dengan cara penduduk Mars: janjian ketemu di lapangan terus gasak-gasakan. Sounds cruel to you? Bagiku sebaliknya, itu cara paling fair menyelesaikan masalah. Gasak-gasakan, pulang babak belur, tapi abis itu UDAH. Masalahnya selesai. Selesai dalam arti sebenarnya dan mereka bisa berteman lagi tanpa beban. Atau kalau takut mukanya rusak karena memar, janjian ketemu di suatu tempat, masuk ruangan, kunci pintunya lalu tanding catur. Itu juga gasak-gasakan—pikirannya gasak-gasakan.

The point is ndak ada gunanya berantem. Ndak ada gunanya BBM panjang-panjang atau telpon pendukung berlama-lama hanya untuk mengklaim diri ndak bersalah. Masalahnya ndak akan beres. Masalah hanya akan selesai kalau kalian duduk bersama dan membuat kompromi, bukannya satu curhat ke selatan, satunya curhat ke utara.

Kalau dipikir lagi, mungkin ini bukan semata perseteruan ala wanita. Ini perseteruan orang yang tidak dewasa. Masing-masing pihak ndak mau melepas ego untuk menyelesaikan masalah. Pada akhirnya masalahnya bukan pada si 'masalah' itu sendiri. Masalahnya ya ego kalian itu. Ego yang membuat kepala kalian jadi sekeras batu.

1 May 2015

Just A Game

Posted by Icha Anindya at Friday, May 01, 2015 0 comments
I should not do this.

Time is running out, I only have 3 days to prepare all materials required for the test but no idea comes to my narrow mind, I don't know how my presentation should look like, and I am blabbering out like this.

I think it would be easier to take this as a game, instead of a test. At least I have nothing to worry about, I have nothing to lose. Lately I watch many episodes of Running Man and I start to imagine the upcoming test as one of RM missions. And this mission will take me one step closer to final mission, the most exciting and cruel one: nametag ripping game.

No, this game will not be that cruel. I don't even need to be Miss Capable to survive. The only thing I have to do is playing with all my heart's content and having a good time.

The game is on!

18 March 2015

Visualisation: The Power of BGM

Posted by Icha Anindya at Wednesday, March 18, 2015 0 comments
Aku termasuk orang yang ndak bisa membiarkan telingaku menganggur sepanjang waktu. Entah ketika sedang main game, belajar, menulis, yang namanya MP3 player di hape atau laptop harus playing sesuatu. Tujuannya lebih untuk membangun mood sih. Kalau saat belajar dan bekerja, biar otakku ndak cepat jenuh juga.

Saat sedang membaca novel aku juga hampir selalu mendengarkan musik. Aku termasuk orang yang percaya pada kekuatan background music (BGM). Kalau lagu yang kudengarkan tepat melatarbelakangi adegannya, aku bisa membayangkan adegan itu dengan sangat mudah dan bisa sampai jadi sangat emosional :D

Waktu di Lombok, aku baca Clockwork Angel sambil dengerin Nageki no Oto dan Fate (Kokia). Karena lagunya bisa pas, itu udah kaya personal theme song-ku selama namatin trilogi The Infernal Devices. Tapi waktu baca Clockwork Princess, entah bagaimana aku bermanuver. Aku baca adegan Will menemukan Tessa di Cadair Idris dan entah gimana, aku memutuskan nyetel Sakura Nagashi tapi langsung pas di bagian klimaksnya.

 Clockwork Princess (Cassandra Clare), Indonesian edition, pp. 441-442

Haduh, bisa langsung kebayang kaya film T.T

27 February 2015

High-School Unrequited Love

Posted by Icha Anindya at Friday, February 27, 2015 0 comments
Hari ini sesampai di sekolah, pertanyaan pertama yang kuajukan kepada anak-anak murid adalah: "Gimana outbond-nya kemarin?"

Mereka serentak menjawab, dengan muka sumringah, "Asyik, Miss! Tapi cape..." :))

Jadi ceritanya, kemarin anak kelas XII mengikuti kegiatan outbond di Kulonprogo. Semacam refreshing sejenak di sela-sela kesibukan persiapan ujian lah. Dan pembahasan soal persiapan Tryout pun mundur seprapat jam saking serunya bertukar cerita seputar kejadian selama outbond. Melihat wajah-wajah yang datang hari ini, kayanya sih outbondnya bener-bener seru. Apalagi katanya ada sesi Truth or Dare segala.

Namanya juga Truth or Dare, permainan ini selalu dimanfaatkan untuk mengorek rahasia dan aib-aib temen, terutama perkara cinta. Nah, ini bagian serunya. Katanya (lagi), waktu sesi Truth or Dare, ada seorang murid cowok, sebut saja XY, menanyakan perasaan seorang cewek, sebut saja XX, terhadap dirinya. Menurut kabar burung yang beredar, XY emang naksir sama XX. Jawaban XX di Truth or Dare pun menegaskan segalanya. Cinta XY pada XX ternyata unrequited. Yaaaaaaaaaaahhh... :'))

Declarations of love amuse me. Especially when unrequited.

-Jace Wayland, City of Bones 

Bagaikan memutar waktu, aku masuk SMA 11 tahun yang lalu, dan selama 3 tahun jadi anak putih abu-abu, jangan ditanya berapa banyak gebetanku. Mulai dari ketua kelas, anak Paskib, sampe sahabat sendiri. Iya, cuma gebetan kok, soalnya cintaku selama SMA unrequited semua. Unrequitednya sampe bikin akunya galau gitu, di hape isinya lagu galau semua. LOL XDDD

Lucu banget sekarang jadinya. Dulu galau, sekarang bisa menertawakan kegalauan itu. Bukan karena sekarang aku (akhirnya) punya pacar, bukaaaaaaaaaan. Aku ketawa karena menyadari betapa berbedanya konsep cinta di otak SMA-ku dan di otakku yang sekarang. Kata pacarku, cinta SMA itu masih kaku, pokoknya maunya cowok yang begini, cewek yang begitu. Semakin dewasa, cintanya semakin rasional, bisa menerima kekurangan orang yang disukai, ndak saklek harus begini begitu lagi, asalkan ndak keluar dari kriteria wajib dan masih bisa ditoleransi.

Dipikir-pikir iya juga. Zaman SMA dulu, kayanya yang namanya cinta sebenernya belum ada. Paling-paling cuma crush atau infatuated cuma karena cowoknya cakep atau pinter atau cool. Buktinya perasaannya meledak-ledak di awal, tapi lupanya juga cepet, sekarang hilang ndak ada bekasnya. Konyol banget. Justru setelah mengalami puluhan kali unrequited, aku jadi tau cowok seperti apa yang benar-benar aku mau untuk jadi pendamping. Anak SMA mana mikir sampe situ?

Bagaimanapun, kisah cinta (monyet) masa SMA juga bagian dari pedewasaanku. Sekarang setelah 11 tahun berlalu, kalau aku ketemu sama cowok-cowok yang pernah kutaksir dulu, aku pasti akan tertawa mengenang betapa konyolnya diriku yang segitu galaunya pernah ditolak sama mereka :'))))))


p.s. Postingan ini kutulis sambil dengerin Too Little Too Late-nya Jojo, lagu yang kunyanyikan berulang-ulang waktu ditolak gebetanku di kelas 3 SMA :p
 

Imaginary Fairytales Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review