Showing posts with label life of mine. Show all posts
Showing posts with label life of mine. Show all posts

21 February 2016

Jutaan Makna dalam Rupa Bersahaja

Posted by Icha Anindya at Sunday, February 21, 2016 0 comments
Kurasa zaman sekarang setiap orang pasti punya setidaknya satu pakaian batik dalam lemari mereka. Dulu batik identik dengan keraton, kesan tradisional, kuno, dan orang-orang tua, namun seiring berjalannya waktu batik telah menjadi pakaian yang diminati oleh segala usia dan lapisan masyarakat. Batik sendiri menjadi salah satu pakaian favoritku. Selain karena bahannya adem, motif dan warnanya yang beraneka ragam membuatnya tidak susah dibentuk menjadi berbagai model, mulai dari blus kasual sampai gaun formal. Lagipula, siapa bilang batik tak cocok dengan celana jeans dan sneakers?

 Pakai batik untuk travelling? Siapa takut! :D

Meski aku suka batik modern dengan warna-warna cerah dan model kontemporer, aku punya ketertarikan terhadap batik-batik klasik, terutama batik-batik yang berasal dari lingkungan tempatku dibesarkan, yaitu Solo dan Jogja. Di dua kota ini terdapat dua keraton yang menjadi poros kebudayaan Jawa, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta di Solo dan Keraton Kasultanan Yogyakarta di Jogja. Batik Solo dan Jogja dalam bahasa Belanda disebut sebagai batik vorstenlanden, yang secara harfiah berarti wilayah-wilayah kerajaan. Sebagai keraton-keraton yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Mataram, bisa dibilang dari sanalah batik-batik klasik berasal.

Batik klasik asal Solo dan Jogja memiliki perbedaan mencolok dengan batik dari daerah lain. Berbeda dengan batik dari daerah lain yang warnanya cenderung cerah dan bermacam-macam (merah, biru, hijau, dan lain-lain), batik klasik cenderung memiliki satu atau dua warna saja. Batik Solo warnanya dominan coklat dan kuning sehingga sering disebut batik sogan (sogan artinya coklat), sedangkan batik Jogja warnanya lebih banyak putih dan coklat tua atau hitam. Warna-warna tersebut memiliki makna kesederhanaan, kerendahan hati, kesucian, dan keanggunan, sehingga pemakainya diharapkan mempunyai sifat-sifat luhur tersebut. Motif-motif batik klasik selain indah, juga kental akan filosofi, bukan hanya gambar bunga atau hewan semata.

Batik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa yang teguh memegang tradisi. Berbagai upacara adat seperti pernikahan, tujuh bulanan, kelahiran, hingga kematian melibatkan batik dalam setiap ritualnya. Setiap batik mengandung harapan, makna, dan filosofi yang bebeda sehingga dalam satu rangkaian upacara bisa saja menggunakan batik yang bebeda.

Ini dia beberapa motif batik klasik yang indah dan sarat makna.

Sidomukti
Sido berarti jadi atau menjadi, mukti artinya bahagia, mendapat kedudukan yang tinggi, kaya atau sejahtera. Batik Sidomukti biasanya digunakan kedua mempelai pada upacara pernikahan. Harapannya adalah semoga keluarga mempelai mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan.

Batik Sidomukti gaya Jogja (atas) dan Solo (bawah)


Wahyu Tumurun
Batik Wahyu Tumurun biasanya digunakan calon mempelai wanita pada malam midodareni. Sesuai namanya, batik ini mengandung harapan agar pemakainya mendapatkan petunjuk dan berkah dari Allah SWT.

 Batik Wahyu Tumurun gaya Jogja (atas) dan Solo (bawah)


Udan Liris
Udan Liris artinya hujan gerimis. Batik ini bermakna agar generasi muda senantiasa tabah dan bersemangat mencari rezeki, tekun berusaha meski ada halangan. Jika dikenakan oleh pengantin, batik Udan Liris mengandung pesan agar mempelai mampu menghadapi suka duka kehidupan berumah tangga, hujan dan panas harus dihadapi bersama. Di sisi lain, hujan gerimis mampu menyejukkan udara. Kalau diperhatikan, garis-garis tipis yang ada pada batik Udan Liris memang membuat kain ini terkesan adem, seperti hujan gerimis di malam hari :)

 Batik Udan Liris


Babon Angrem
Babon Angrem artinya ayam betina yang sedang mengerami telurnya. Pemakai batik dengan motif ini diharapkan memiliki kesabaran dan ketelatenan dalam mencapai sesuatu seperti induk ayam yang sabar mengerami telurnya hingga menetas.

  Batik Babon Angrem


Madu Bronto
Nah, kalo yang semanis madu begini pasti sudah bisa ditebak. Madu Bronto artinya kasmaran atau jatuh cinta. Konon dahulu para pria mengenakan batik Madu Bronto ketika berkunjung ke rumah kekasihnya, sehingga orang tua si gadis tahu maksud kedatangan sang pria dengan melihat bajunya saja. Keren kali ya, kalau zaman sekarang para cowok dateng ngapel pakai Madu Bronto :)

  Batik Madu Bronto


Satriyo Manah
Batik Satriyo Manah dikenakan oleh pria saat melamar kekasihnya. Maknanya tentu saja si pria 'memanah' hati calon istrinya dan berharap lamarannya diterima. Romantis yaaa :)

  Batik Satriyo Manah


Semen Rante
Nah, kalau saat lamaran si pria mengenakan Satriyo Manah, maka si wanita mengenakan Semen Rante. Maknanya adalah bahwa si wanita bersedia dijadikan istri dan siap disatukan dalam ikatan pernikahan yang kokoh.  

  Batik Semen Rante


Truntum
Menurut Winarso Kalinggo, pengamat budaya Jawa dari Museum Radya Pustaka Solo, motif Truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Beruk, selir Paku Buwana III. Saat itu Sang Ratu merasa sedih karena Raja mempunyai kekasih baru sehingga beliau merasa dilupakan. Suatu malam Ratu melihat bunga tanjung yang berguguran di halaman istana. Keindahannya dituangkan oleh Sang Ratu pada sehelai kain. Ketekunan Ratu membatik menarik perhatian Raja, kemudian Raja mendekati dan menunggui Ratu membatik. Makna dari motif Truntum adalah kasih sayang yang tumbuh kembali (tumaruntum) karena berkat motif inilah cinta Raja kepada Ratu bersemi kembali. Batik Truntum biasa dikenakan orang tua mempelai pada hari pernikahan. Cinta kasih yang selalu bersemi di antara orang tua diharapkan juga dimiliki oleh mempelai. Truntum juga dapat bermakna menuntun, yang maknanya orang tua diharapkan selalu menuntun anaknya ke arah kebaikan.

  Batik Truntum


Slobog
Slobog berasal dari kata lobok yang berarti longgar. Batik Slobog biasa digunakan untuk menutup jenazah serta digunakan para pelayat saat menghadiri takziah. Makna batik Slobog yaitu doa bagi almarhum agar mendapatkan kelonggaran dan kelapangan dalam kuburnya, sedangkan yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kelapangan hati untuk melepas kepergian almarhum dengan ikhlas. 

Batik Slobog

Dahulu ada motif-motif batik yang hanya boleh dikenakan oleh Raja dan anggota keluarganya, misalnya kelompok Sawat dan Parang. Namun dengan berjalannya waktu, aturan keraton menjadi agak longgar dan beberapa motif boleh dipakai rakyat biasa, misalnya Udan Liris. 

Sejak dulu batik menjadi elemen budaya yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan seluruh lapisan masyarakat Jawa. Zaman sekarang pun penggunaan kain batik tidak hanya sebatas pakaian, tetapi telah dikreasikan menjadi tas, aksesoris, perlengkapan rumah tangga, bahkan ada yang membuat kue bermotif batik. Batik-batik yang dikreasikan ini tentu bukan batik klasik. Banyak juga anak muda yang sekarang berkreasi menciptakan motif-motif batik kontemporer. Bagi aku pribadi, batik klasik maupun kontemporer punya kelebihan masing-masing. Tapi saat memakai batik klasik, apalagi batik tulis, rasanya bedaaaa sekali. Rasanya lebih 'Njawani', jadi orang Jawa tulen :D

Mempelajari berbagai macam motif batik sangat menarik bagiku. Selain bisa menikmati sebuah karya seni, makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya menunjukkan bahwa para pencipta motif batik telah mampu menuangkan pemikiran dan harapan dalam simbol-simbol yang begitu indah. Mengenakan batik yang berbeda dalam setiap kesempatan bisa membantu kita mengingat nilai-nilai sebuah upacara adat. Dengan begitu pemakainya diharapkan akan selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Batik tulis yang indah itu juga tidak dibikin dalam semalam lho. Butuh proses yang saaangat panjang dan waktu yang lama. Ini mengajarkan bahwa menghasilkan sesuatu itu butuh proses dan ketekunan. Hebat ya, begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik hanya dari sehelai kain :) 

Ngomong-ngomong, belajar tentang batik membuatku ingin jadi kolektor batik, terutama batik tulis klasik. Insya Allah :) 




*Tulisan ini diikutkan dalam event Gramedia Blogger Competition periode Februari 2016. 

Referensi:
Kusrianto, A. 2013. Batik - Filosofi, Motif dan Kegunaan. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

10 January 2016

A Week After New Year

Posted by Icha Anindya at Sunday, January 10, 2016 0 comments


우린 성공해야 해
아니 행복해야 해

We need to succeed
No, we need to be happy


[Lonely Night (또 하루) - GARY (개리) feat. GAEKO]

 

 

 *Photo taken from here.

2 September 2015

When Mood Swings You

Posted by Icha Anindya at Wednesday, September 02, 2015 0 comments
Sepupuku Dede pernah masang gambar ini di DP BBM-nya.



Dan aku ketawa.

Aku ndak ngerti penjelasan secara psikologinya, tapi faktanya emang aku bisa merasakan semua yang digambarkan emot-emot itu dalam satu hari. Bangun pagi moodnya biasa aja, terus jam 10-an gitu agak turun, terus siang melting-melting nonton gebetan baru si cowok Turki yang namanya Ayaz (#infondakpenting), abis itu nangis, abis itu emotionless, abis itu senyum-senyum liat foto-fotonya almost-real OTP, ketawa-ketawa nonton RM, terus tidur.

Kalo yang baca ini seorang cowok, pasti bakalan cape banget ngebayanginnya :')))))

Oh ya, dalam hari-hari normal aja hal seperti ini sering terjadi, apalagi pas PMS. Kalian akan menemukan bahwa perubahan mood kami tak ubahnya grafik takikardi :p

Sebenernya mood swing begini ndak bagus buat seorang wanita, for me especially, yang mana kualitas kegiatannya hampir selalu dipengaruhi level mood. Dan setelah bertahun-tahun, kali ini aku benar-benar menyadari hal krusial terkait mood swing ini.

Kalau moodku jelek karena lagi marah atau ngambek, aku akan sangat senang diberi pekerjaan yang membutuhkan otak kiri. Aku akan mendadak jadi sangat lancar mengerjakan soal atau, dulu, mengerjakan tugas kuliah dan nggarap tesis. Pokoknya tiba-tiba pinternya jadi nge-boost, otaknya tiba-tiba mletik. Beberapa bulan yang lalu aku mau tes microteaching dan nervous-nya setengah mati. Akhirnya aku becanda sama Mas Radif, aku mau dinakali biar ngambek dan marah, biar pas tes aku jadi pinter :D

Sebaliknya, bad mood menghambat kemampuanku melakukan hal-hal yang membutuhkan 'rasa'. Aku punya proyek handmade baru dan hari ini entah kenapa tanganku jadi 'keriting' dan hasil pekerjaanku jelek semua. Waktu masak juga gitu, butuh berulang kali adjust bumbu sampe rasanya pas. Untung hasilnya pas dan enak. Lalu aku paham kenapa chef cewek lebih sedikit jumlahnya dibanding cowok. Kalo cewek PMS masak, garam sama gula bisa ketuker. Kalo masak di restoran dalam kondisi begitu, tamu-tamunya bisa baku pukul. Chef cewek profesional pasti punya self-control yang luar biasa levelnya.

Kayanya PR-ku selanjutnya adalah belajar mengendalikan diri biar Hulk-nya ndak muncul sakkarepe dhewe. Atau lewat belokan lain, biar lagi badmood, kerjaan pake otak ataupun perasaan hasilnya bagus semua.

11 August 2015

Fire Tests Gold

Posted by Icha Anindya at Tuesday, August 11, 2015 0 comments
Dulu waktu mau lulus SMA, aku masih terobsesi jadi dokter. Pilihan pertamaku untuk ujian masuk universitas ya Pendidikan Dokter. And after weeks, even months of studying like crazy, I didn't get it. Waktu mau ujian masuk universitas juga, kumasukkan nama universitas impianku di pilihan pertama. Setelah mencoba tiga kali sampai jiwa ragaku babak belur, I didn't get it.

Aku kuliah di tempat yang tidak terlalu kuharapkan, di jurusan yang kusukai tapi bukan yang sangat kuinginkan. Dan saat mau skripsi, aku bisa dibilang mahasiswa yang nyaris terakhir mendapatkan judul. Bukan apa-apa, saat itu dosen yang membuka proyek yang kuincar cuma sedikit, bahkan nyaris tidak ada.

Setelah lulus, aku harus menunggu setahun setelah lulus untuk bisa masuk S2. Jadi mahasiswa season 2, klimaks season 1 terulang lagi. Aku harus pontang-panting dan dilempar ke sana kemari sampai jiwa raga babak belur lagi demi mendapatkan proyek untuk tesis.

Kali ini fase hidupku sedang nyebahi seperti sebelumnya itu. I don't know where this road will take me to. Aku disibukkan dengan mencari apa yang kuinginkan, apa yang jadi tujuanku, apa yang kusukai dan itu semua ternyata sanggup membuat kepalaku pusing. It feels like Allah is testing me. Dan ujian yang berasal dari diri sendiri cukup buruk juga ternyata.

Sampai kemudian aku bertanya pada diriku sendiri. Yakin lagi diuji, Cha? Bukan lagi ditanya? 

Dan setelah merenung dan merunut, mungkin memang benar. 

Apa yang benar-benar kamu sukai, Cha?
Apa yang benar-benar kamu inginkan, Cha?
Kamu maunya jadi apa, Cha? 

Tapi ya mungkin iya juga, aku lagi diuji. Diuji seberapa keras kepalaku, seberapa keras kemauanku, seberapa persisten aku dengan apa yang aku mau, dan seberapa mempeng usahaku untuk mendapatkan itu. Plus berapa banyak keikhlasanku di saat yang bersamaan.

Dulu juga begitu kan? Aku dibelokkan, dikasih hambatan, digimanain sebegitu rupa, tapi pada akhirnya aku mendapatkan apa yang kuinginkan, hanya karena aku tidak menyerah, berani mengambil pilihan dan sedikit keras kepala.

Ada—bahkan banyak—saat ketika hidupku begitu ruwet, berliku, naik turun, lewat polisi tidur, kejebak macet, pengalihan lalu lintas, kehabisan bensin, kebanan, mesinnya mlepeg, dan sebagainya sehingga rasanya susaaaaaaaah sekali sampai ke tujuan. There were times when it was so damn difficult to achieve something, sometimes even almost impossible, as if I was never destined to get that. Reality was too painful to face and dreams were even unreachable. Saking seringnya bahkan aku sampai ndak bisa ngitung.

But somehow I could overcome that. Dan apa yang kudapat melebihi ekspektasiku sebelumnya.

Aku ndak jadi masuk Kedokteran, tapi di Biologi track record-ku ndak buruk. Malah sekarang jadi cinta setengah mati. I can't live without it. Meskipun biologinya tetep ke-medis-medis-an juga sih :D

Aku ndak jadi masuk S1 di univ yang aku pengen dari SMP, tapi aku akhirnya berhasil 'balas dendam'. Aku bisa S2 di sana dengan bahagia. Tentu dengan kekeraskepalaan yang kalau orang tahu, aku sudah pasti kena sambit sendal jepit. Dikasih kesempatan scholarship ke Australia kutolak (padahal LoA dijamin langsung turun dan pengurusan sudah dijamin lancar jaya), terus seleksi beasiswa ke Jepang kulepaskan begitu saja di tengah jalan (padahal sudah lolos seleksi 1), demi masuk ke univ yang aku mau. Ternyata di sini aku dapat teman yang level kewarasannya setingkat denganku, ketemu orang-orang yang hebat, dan belajar hal-hal baru yang priceless. Kalau dulu aku kuliah S1 tidak di almamater S1-ku, mungkin aku akan end up di luar negeri atau di antah berantah dan takkan mendapatkan apa yang kudapatkan sekarang.

Meski dilempar pontang-panting ke sana kemari, aku bisa dapat proyek penelitian untuk skripsi dan tesis sesuai keinginanku, dengan kekeraskepalaan yang di luar kewajaran juga. Dapat dosen pembimbing dan teman-teman satu penelitian yang luar biasa kompak. Waktu ujian juga lancar dan 'terusir' dari kampus dengan selamat, tepat waktu, dan hasil yang pantas disyukuri.

Masalah cinta jangan ditanya. 23 tahun jadi cewek yang ditolak semua cowok dulu, baru akhirnya ada yang suka padaku. Orangnya high quality lagi <3

Aku teringat salah satu ungkapan Latin yang kudapat di novel yang kubaca beberapa waktu lalu. Ignis aurum probat. Fire tests gold. Api menguji emas. Kesulitan menguji kekuatan dan karakter seseorang. Kurasa ujian dan pertanyaan-pertanyaan ini juga begitu. Mungkin aku disiapkan untuk sesuatu yang sangat sangat besar, sesuatu yang sangat kuinginkan dan Allah harus tahu apakah aku benar-benar siap menerimanya sebelum memberikannya padaku.

Fase merenung-dan-mencari ini memang menyebalkan dan mentally exhausting. Aku ingin melakukan sesuatu sambil mencari tapi kok ya tetep susah menemukan sesuatu yang bisa membuatku nyaman. I don't give up on my dreams, not yet, meskipun di satu sisi rasanya batas antara mimpi dan kenyataan makin jelas saja dari hari ke hari. Mungkin aku perlu menambah usaha, kekeraskepalaan dan keikhlasanku sedikit lagi. Semoga saja aku bisa cepat menemukan jawabannya biar setidaknya arah hidupku ndak terlunta-lunta :)

22 July 2015

Catatan Lebaran #1: The Observer

Posted by Icha Anindya at Wednesday, July 22, 2015 0 comments
Eid Mubarak! Maaf lahir batin, semuanya :)

Meski Lebaran tahun ini kuhabiskan bersama para sepupu di bagian barat pulau, dengan jujur dan berat hati harus kukatakan bahwa Lebaran kali ini sama sekali tidak meninggalkan kesan manis bagiku. Aku bisa banyak mengeluh kalau mau, dan aku memang beberapa kali mengeluhkan situasi yang hambar ini, tapi nyatanya keadaan tidak bisa diubah dan entah bagaimana aku justru menemukan hal-hal yang cukup membuat diriku sendiri terkejut.

Entah apakah aku sudah semakin dewasa (faktanya aku berulang tahun beberapa hari yang lalu :p) atau karena energiku habis (mengingat bahkan sebelum traveling aku sudah mondar-mandir ke sana kemari), surprisingly aku berhasil menahan mulutku menjadi liar. Itu jelas jauh lebih baik dari yang bisa kuharapkan. Dan sebagai gantinya, mata dan telingaku (dan tentu saja perutku :p) bekerja lebih efektif dalam beberapa hari itu.

Tidak banyak hal yang kucurhatkan pada saudara-saudaraku kemarin, bahkan nyaris tidak ada, padahal aku sudah menyiapkan banyak bahan cerita untuk quality time kami. Selama di sana, aku sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu, tapi sesampainya kembali ke rumah, aku sadar kalau mungkin memang tidak ada hal yang perlu diceritakan, tidak sepenting itu sampai perlu dibahas dan diceritakan. Bukan hanya itu. Selama di sana aku melihat bahwa saudara-saudaraku sibuk dengan dunianya sendiri, baik itu dunia yang mereka ciptakan sendiri (gadget, TV, ngelamun) atau dunia 'paksaan' (disuruh bikin teh padahal sebenarnya yang nyuruh bisa bikin sendiri, dipanggil ke sana kemari, ditarik ke hotel sementara yang lain berkumpul di rumah, dan sebagainya). Aku tidak menghakimi dan memang tidak berhak menghakimi. Aku juga tidak terang-terangan meminta mereka untuk menciptakan quality time seperti yang kuharapkan ketika kami bisa berkumpul begini. Entah bagaimana aku bisa diam dan mengamati. Tapi seperti yang kau tahu, kau bisa mengendalikan mulutku tetap diam, tapi tidak dengan pikiranku. Aku menilai semua itu dalam pikiranku, menempatkan penilaian untuk setiap orang dan membiarkannya tidak terkonfirmasi.

Kurasa memang benar, ketika sedang diam, kau bisa menjadi observer yang luar biasa baik. Dan fokus pengamatanku kemarin adalah para orang tua. Aku mengamati bagaimana om-tante dan pakde-budeku bersikap. Aku mendengar apa yang mereka katakan, memperhatikan gaya bahasa dan intonasi yang sering mereka gunakan, bagaimana mereka bicara dengan anak-anak mereka, bagaimana mereka sedikit-sedikit memanggil untuk meminta anaknya melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dikerjakan sendiri atau ditunda, bagaimana mereka membuat orang lain terburu-buru ketika itu berkaitan dengan kepentingan mereka sementara di sisi lain kelewat santai padahal ada orang lain yang butuh kepentingan, siapa berpikiran seperti apa, dan bagaimana akhirnya anak-anak mereka meniru apa yang mereka lakukan.

Ada kalanya aku mengernyitkan dahi melihat apa yang kutemukan, ada kalanya juga aku mengangguk dan tersenyum sendiri. Observer punya keuntungan, kami bisa menyimpan rasa setuju dan tidak setuju. Kami tidak mengungkapkannya, kami melakukannya. Kami akan meniru apa yang kami setujui, tapi ketika ada hal yang tidak kami setujui, siapapun takkan bisa memaksa kami untuk melakukan hal yang sama.

Bisa dibilang Lebaran tahun ini aku tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang yang kujumpai, akan tetapi di sisi lain aku mendapatkan lebih banyak pelajaran. Aku tidak puas dengan acara Lebarannya, tapi aku puas dengan diriku sendiri. Aku puas dengan apa yang kuperoleh. Mungkin memang benar, sesekali aku perlu menutup mulut dan lebih banyak membiarkan mata dan telingaku berkelana. Itu kalau aku mau jadi sedikit lebih bijaksana.

17 May 2015

Ngumpet-ngumpet

Posted by Icha Anindya at Sunday, May 17, 2015 0 comments
Aku wanita, tapi sejujurnya aku ndak pernah paham cara berseteru ala wanita.

A punya masalah dengan B. Lalu A curhat via BBM ke C sementara B telponan curhat sejam lebih sama D. Kalau A dan B bertatap muka, mereka saling melempar senyum manis dan sapaan mesra bahkan cipika cipiki, tapi asal tahu saja, sebenarnya tangan mereka sudah dalam posisi siaga menampar muka lawan bicara.

Wanita, katanya, jago menyimpan perasaan, termasuk perasaan marah, kesal, betrayed, dan semacamnya. Makanya kalau wanita berseteru, mereka akan mencari pendukung instead of menyelesaikan masalahnya sesegera mungkin. Terjadilah perang sembunyi-sembunyi. A dan pendukungnya diam-diam membenci B, begitu juga sebaliknya. Sampai sangkakala ditiup dua kali juga ini perang ndak akan beres.

Kadang kupikir alangkah indahnya sebuah perseteruan jika diselesaikan dengan cara penduduk Mars: janjian ketemu di lapangan terus gasak-gasakan. Sounds cruel to you? Bagiku sebaliknya, itu cara paling fair menyelesaikan masalah. Gasak-gasakan, pulang babak belur, tapi abis itu UDAH. Masalahnya selesai. Selesai dalam arti sebenarnya dan mereka bisa berteman lagi tanpa beban. Atau kalau takut mukanya rusak karena memar, janjian ketemu di suatu tempat, masuk ruangan, kunci pintunya lalu tanding catur. Itu juga gasak-gasakan—pikirannya gasak-gasakan.

The point is ndak ada gunanya berantem. Ndak ada gunanya BBM panjang-panjang atau telpon pendukung berlama-lama hanya untuk mengklaim diri ndak bersalah. Masalahnya ndak akan beres. Masalah hanya akan selesai kalau kalian duduk bersama dan membuat kompromi, bukannya satu curhat ke selatan, satunya curhat ke utara.

Kalau dipikir lagi, mungkin ini bukan semata perseteruan ala wanita. Ini perseteruan orang yang tidak dewasa. Masing-masing pihak ndak mau melepas ego untuk menyelesaikan masalah. Pada akhirnya masalahnya bukan pada si 'masalah' itu sendiri. Masalahnya ya ego kalian itu. Ego yang membuat kepala kalian jadi sekeras batu.

1 May 2015

Just A Game

Posted by Icha Anindya at Friday, May 01, 2015 0 comments
I should not do this.

Time is running out, I only have 3 days to prepare all materials required for the test but no idea comes to my narrow mind, I don't know how my presentation should look like, and I am blabbering out like this.

I think it would be easier to take this as a game, instead of a test. At least I have nothing to worry about, I have nothing to lose. Lately I watch many episodes of Running Man and I start to imagine the upcoming test as one of RM missions. And this mission will take me one step closer to final mission, the most exciting and cruel one: nametag ripping game.

No, this game will not be that cruel. I don't even need to be Miss Capable to survive. The only thing I have to do is playing with all my heart's content and having a good time.

The game is on!

27 February 2015

High-School Unrequited Love

Posted by Icha Anindya at Friday, February 27, 2015 0 comments
Hari ini sesampai di sekolah, pertanyaan pertama yang kuajukan kepada anak-anak murid adalah: "Gimana outbond-nya kemarin?"

Mereka serentak menjawab, dengan muka sumringah, "Asyik, Miss! Tapi cape..." :))

Jadi ceritanya, kemarin anak kelas XII mengikuti kegiatan outbond di Kulonprogo. Semacam refreshing sejenak di sela-sela kesibukan persiapan ujian lah. Dan pembahasan soal persiapan Tryout pun mundur seprapat jam saking serunya bertukar cerita seputar kejadian selama outbond. Melihat wajah-wajah yang datang hari ini, kayanya sih outbondnya bener-bener seru. Apalagi katanya ada sesi Truth or Dare segala.

Namanya juga Truth or Dare, permainan ini selalu dimanfaatkan untuk mengorek rahasia dan aib-aib temen, terutama perkara cinta. Nah, ini bagian serunya. Katanya (lagi), waktu sesi Truth or Dare, ada seorang murid cowok, sebut saja XY, menanyakan perasaan seorang cewek, sebut saja XX, terhadap dirinya. Menurut kabar burung yang beredar, XY emang naksir sama XX. Jawaban XX di Truth or Dare pun menegaskan segalanya. Cinta XY pada XX ternyata unrequited. Yaaaaaaaaaaahhh... :'))

Declarations of love amuse me. Especially when unrequited.

-Jace Wayland, City of Bones 

Bagaikan memutar waktu, aku masuk SMA 11 tahun yang lalu, dan selama 3 tahun jadi anak putih abu-abu, jangan ditanya berapa banyak gebetanku. Mulai dari ketua kelas, anak Paskib, sampe sahabat sendiri. Iya, cuma gebetan kok, soalnya cintaku selama SMA unrequited semua. Unrequitednya sampe bikin akunya galau gitu, di hape isinya lagu galau semua. LOL XDDD

Lucu banget sekarang jadinya. Dulu galau, sekarang bisa menertawakan kegalauan itu. Bukan karena sekarang aku (akhirnya) punya pacar, bukaaaaaaaaaan. Aku ketawa karena menyadari betapa berbedanya konsep cinta di otak SMA-ku dan di otakku yang sekarang. Kata pacarku, cinta SMA itu masih kaku, pokoknya maunya cowok yang begini, cewek yang begitu. Semakin dewasa, cintanya semakin rasional, bisa menerima kekurangan orang yang disukai, ndak saklek harus begini begitu lagi, asalkan ndak keluar dari kriteria wajib dan masih bisa ditoleransi.

Dipikir-pikir iya juga. Zaman SMA dulu, kayanya yang namanya cinta sebenernya belum ada. Paling-paling cuma crush atau infatuated cuma karena cowoknya cakep atau pinter atau cool. Buktinya perasaannya meledak-ledak di awal, tapi lupanya juga cepet, sekarang hilang ndak ada bekasnya. Konyol banget. Justru setelah mengalami puluhan kali unrequited, aku jadi tau cowok seperti apa yang benar-benar aku mau untuk jadi pendamping. Anak SMA mana mikir sampe situ?

Bagaimanapun, kisah cinta (monyet) masa SMA juga bagian dari pedewasaanku. Sekarang setelah 11 tahun berlalu, kalau aku ketemu sama cowok-cowok yang pernah kutaksir dulu, aku pasti akan tertawa mengenang betapa konyolnya diriku yang segitu galaunya pernah ditolak sama mereka :'))))))


p.s. Postingan ini kutulis sambil dengerin Too Little Too Late-nya Jojo, lagu yang kunyanyikan berulang-ulang waktu ditolak gebetanku di kelas 3 SMA :p

7 February 2015

Guru Pasca-Sarjana

Posted by Icha Anindya at Saturday, February 07, 2015 0 comments
Dua belas hari lalu, aku resmi menyandang gelar sarjana kedua. Ritual wisudaku sedikit berbeda dengan wisuda S1, termasuk berbeda kota, venue, yang mewisuda, dan model toganya. Akhirnya aku merasakan juga diwisuda di Grha Sabha Pramana UGM. Overjoyed :D

Waktu kelulusanku (ujian tesis tertutup dan terbuka) dengan wisuda berselang cukup jauh, sekitar 4 bulan dan selama 4 bulan itu kelakuanku seperti Sherlock yang lagi sepi kasus, teriak-teriak "BORED!" sepanjang waktu sambil gegulingan ke sana kemari, praktis kerjaannya cuma makan sama tidur aja. My life was so dull at that point.

Mungkin penyebabnya gara-gara akunya juga yang terlampau idealis. Tujuanku setelah lulus S2 hanya satu: jadi dosen. Aku tidak pernah menginginkan dan membayangkan pekerjaan lain selain itu (kecuali jadi istri dan ibu :p). Tapi ternyata untuk mendapatkan tempat yang cocok juga bukan perkara gampang. Sekali waktu tanteku memberi info lowongan untuk dosen, tapi aku tidak sreg dengan universitasnya, jadi peluang itu tak kuambil, bahkan walaupun bidangnya sesuai dengan major-ku. Sementara itu universitas lain yang kuincar belum membuka lowongan, jadi ya sudah, another waiting session I guess.

Lalu sekitar dua minggu sebelum wisuda, beberapa hari setelah tahun baru, teman sekelasku Ayu memberikan tawaran padaku via WhatsApp,"Purun dadi guru drilling neng sekolahanku po?"

Awalnya aku agak bimbang. Aku tahu Ayu sudah beberapa bulan bekerja jadi guru di SMA. Bekerja jadi guru di SMA sedikit melenceng dari idealismeku memang, tapi aku sebenarnya tidak terlalu merasa keberatan. Hanya saja, aku pernah punya pengalaman buruk. Aku pernah melamar untuk menjadi guru di bimbel, lalu aku dites microteaching dan kemudian aku ditolak bekerja karena (kata jurinya) cara mengajarku tidak cocok untuk anak SMA. Katanya aku mengajar seperti seorang dosen. Sepulang dari situ, kuputuskan bahwa aku akan berpikir berulang kali kalau harus mengajar di bimbel (dan secara tidak langsung, anak SMA), karena di mataku bimbel hanyalah sarana mencari jawaban dengan cepat, bukan mencari pemahaman tentang apa yang dipelajari. Aku merasa perlu mempertimbangkan tawaran itu, jadi aku minta waktu berpikir sebentar dan setelah dapat acc dari Mamah, malamnya aku bilang pada Ayu kalau aku menerima tawarannya.

Sekitar dua hari kemudian, aku datang ke sekolah itu untuk wawancara dengan guru biologinya. Ada tiga orang yang berminat menjadi guru drilling, sementara yang dibutuhkan hanya dua, jadi diadakan seleksi wawancara. Selain aku, ada mas-mas dari UIN dan satunya Mas Agung, yang juga teman sekelasku. Lumayan lah, aku jadi sedikit tenang, setidaknya ada orang yang kukenal dan aku jadi bisa ngobrol selama menunggu. Lagipula sebenarnya aku sudah stress sejak Ayu memberitahuku bahwa akan ada seleksi. Tapi akhirnya "Fuck it" juga. Toh mau lari dari kenyataan juga tidak bisa.

Singkat cerita, akhirnya aku dan Mas Agung yang lolos seleksi. Alhamdulillah, akhirnya aku punya kegiatan yang menghasilkan uang. Aku juga jadi tidak bengong saja di rumah. Aku juga bersyukur aku dan Mas Agung sama-sama lolos, jadi aku tidak perlu melakukan penyesuaian dengan teman kerjaku, aku tinggal menyesuaikan diri dengan sekolah dan pekerjaanku. Tentang pekerjaannya sendiri, dibilang berat ya berat, dibilang tidak ya tidak. Jadi aku membantu anak kelas XII dalam persiapan menghadapi Ujian Nasional. Tiap kelas dibagi menjadi tiga kelompok. Aku, Mas Agung, dan guru biologi masing-masing meng-handle satu kelompok dan kami membahas soal-soal dari modul dan kumpulan soal ujian tahun-tahun sebelumnya.

Sejujurnya pada hari pertamaku bekerja, aku cukup ketakutan. Aku tidak pernah menghadapi anak SMA sebelumnya. Tapi ya, aku pernah jadi anak SMA, jadi aku tahu bagaimana kelakuan dasar anak SMA. Di luar dugaan, hari pertamaku berlangsung cukup baik. Bagian terbaik dari hari pertamaku adalah menyaksikan kekaguman anak-anak ketika tahu bahwa guru baru mereka adalah lulusan S2 :)))

Sampai hari ini, aku sudah mengenal dengan baik semua murid yang ku-handle dan aku berani bilang bahwa mereka cukup nyaman belajar bersamaku. Pada dasarnya mereka juga pribadi yang unik dan menyenangkan. Selalu ada hal baru yang kudapatkan setiap bertemu mereka dan aku juga belajar banyak dari mereka. Awalnya aku takut tidak bisa mengenal mereka dengan baik, tapi entah bagaimana aku bisa melakukannya. Ternyata aku hanya perlu melepaskan posisi sebagai aku dan lebih banyak terfokus pada mereka. Dan surprisingly, aku sedikit demi sedikit bisa mengetahui apa yang tersembunyi dalam diri mereka. Pada dasarnya mereka semua punya potensi dan gaya masing-masing untuk belajar. Aku belum menemukan cara untuk membuat kemampuan mereka melesat, tapi setidaknya aku tahu bagaimana cara menangani masing-masing dari mereka.

Dari mereka, aku belajar banyak tentang menghadapi orang. Aku belajar bagaimana mendapatkan perhatian mereka saat di kelas dan rupanya mereka senang saat seorang guru punya dunia yang sama dengan mereka. Beberapa murid lumayan kaget saat tahu aku sudah membaca Eyeshield 21 dan kami membahas jalan ceritanya sedikit. Beberapa murid juga sudah berani curhat padaku tentang pelajaran. Agak lucu juga, aku jadi anak manja di depan orang tua dan pacarku, tapi di depan mereka, aku bijaksana luar biasa. Lebih baik mereka ndak tau aslinya aku :p

Aku juga menemukan murid-murid yang kemampuannya jauh di atas teman-teman seangkatannya yang lain. Mereka kritis, belajar dengan caranya sendiri, membaca dan mengingat lebih banyak dari yang diperlukan, dan kadang bersikap agak seenaknya (yang mengingatkanku pada pacarku :D). Beberapa dari mereka terlihat jelas-jelas bangga dengan kemampuannya dan jadi terkesan ingin menunjukkan pada gurunya bahwa mereka mampu. Aku tidak menyalahkan mereka untuk ini karena aku dulu pun begitu :p Bahkan aku mengakui kalau ada di antara mereka yang lebih pintar dari aku (atau mungkin ingatannya hanya sedikit lebih fresh. #ngeles), mengingatkan diriku sendiri untuk lebih siap dan belajar lebih banyak supaya ndak mati gaya di depan mereka :)

Jadi guru SMA bukan cita-citaku, aku masih dan selalu ingin jadi dosen. Tapi passion-ku mungkin memang mengajar, sehingga meskipun kuakui aku cape jadi guru drilling, sejauh ini aku tidak mau mutung. Banyak pelajaran yang kudapatkan sekarang yang pasti berguna ketika aku nanti benar-benar menjadi dosen. Lagipula jadi guru drilling memberiku kesempatan untuk me-refresh ilmuku dan belajar lebih banyak lagi. Dan bagiku, ini bukan masalah gaji. Bukan juga masalah "eman-eman lulusan S2 kok cuma jadi guru". Ini batu loncatan yang berharga untuk mencapai cita-citaku nanti :)

13 December 2014

Otak yang Berisik

Posted by Icha Anindya at Saturday, December 13, 2014 0 comments
Hari ini aku dan Mamah melakukan petualangan sehari, Jogja-Solo-Jogja, naik kereta api. Sepanjang perjalanan, baik pergi mau pun pulang, tidak seperti biasanya aku tidak bisa tidur. Atau setengah tidur dan setengah tidak. Padahal buatku kondisi kereta cukup nyaman. Aku duduk memejamkan mata, tapi bukannya terlelap, rasanya aku malah bisa mendengar seluruh percakapan orang-orang seisi gerbong. Suara mereka mendengung bersahutan. Aku tidak tahu orang yang mana bicara apa, tapi kupikir aku bisa mendengar semua yang mereka ucapkan. Aku berusaha membiarkan suara mereka lewat, membayangkan diriku menatap dinding kosong, mencoba tidak membayangkan siapa sedang bicara apa. Tapi semakin aku berusaha, percakapan mereka semakin keras mendengung dalam otakku, bercampur dengan suara-suara yang memang sudah ada dalam kepalaku.

Kau tahu, kepalaku tidak pernah berhenti bicara. Otakku sangat berisik, sama sepertiku. Seolah-olah ada ratusan diriku dalam versi mini di dalam sana, saling bercakap-cakap, bergosip, merancang skenario, menebak-nebak apa yang dipikirkan orang lain, menggalau, membayangkan adegan romantis dalam novel yang baru saja kubaca, menggerutu, bahkan bersenandung. Aku tidak yakin suara yang mana yang membuatku tidak bisa tidur. Suara orang-orang, suara otakku sendiri, atau yang lebih parah, combo keduanya.

Lalu di seberang tempat dudukku di kereta, ada seorang gadis kecil dan ibunya. Gadis kecil itu wujudnya nyaris sama denganku ketika umurku kira-kira 3 atau 4 tahun. Kalau sekarang aku seumurnya dan kami berdiri bersebelahan, kami pasti seperti anak kembar. Ibunya duduk di ujung kursi sementara gadis kecil itu tidur telentang dengan damai sejahtera, hampir sepanjang perjalanan. Lalu aku berpikir, dua puluh tahun lagi gadis kecil itu akan seumurku. Apa otaknya juga akan berisik sepertiku? Dan sebaliknya, aku ingin kembali jadi anak kecil seperti dia, ketika otakku belum berisik seperti sekarang. Ketika tidak ada yang perlu dipikirkan. Ketika hal yang bisa membuatku menangis hanyalah es krim coklat yang terhalang restu orang tua.

Dan malam ini, aku mengantuk sekali. Tapi aku malah memikirkan sesuatu yang sering diucapkan pacarku, yang aku tak juga paham maksudnya: koneksi. Hari ini entah bagaimana aku ingin diriku menjadi seorang observer, mengamati orang-orang. Tentunya dengan sedikit modifikasi versiku sendiri, yaitu mengamati dan menebak-nebak isi pikiran mereka. Apa dengan hal sesederhana itu kau bisa terkoneksi dengan sekitarmu? Apa menjadi terkoneksi sampai bisa membuatmu mendengar percakapan seisi gerbong hingga kau tak bisa tidur? Atau itu cuma karena kau tak bisa menyumpal telinga dengan musik?

15 November 2014

Mas Harry and I #1: Akun Pottermore

Posted by Icha Anindya at Saturday, November 15, 2014 0 comments
Kemarin adalah ketiga kalinya aku bikin akun di Pottermore.com, situs game online yang dibuat oleh sang penulis Harry Potter, J.K. Rowling, beserta timnya. Akun yang pertama kali aku bikin pas S1 lupa password-nya, dan yang kedua batal kupakai karena ternyata akun lamaku saat itu bisa di-ressurect. Dulu aku sudah bermain sampai di awal buku kedua, tapi kemudian lama tidak kulanjutkan, plus ganti laptop juga, jadi sekarang aku membuat akun baru demi bisa bermain lagi.

Sebenarnya aku main di Pottermore bukan benar-benar mencari permainannya. Aku lebih mencari info-info yang tak kutemukan di bukunya. Salah satu yang kusuka adalah penjelasan tentang tongkat sihir: kayu pembuatnya (wand wood) dan intinya (wand core). Rasanya nyata banget, seperti benar-benar ada tongkat dengan karakter berbeda-beda. Di Pottermore juga ada semacam kuis untuk mengetahui tongkat yang akan kamu dapatkan. Aku dapat tongkat dari kayu ash dengan inti bulu unicorn. Katanya tongkat itu setia, keras kepala, dan kemungkinannya kecil untuk convert ke dark side. Yay! And FYI, that stubborn part, that is sooooo me :D

Dalam beberapa entry, J.K. Rowling juga khusus menuliskan cerita di balik item-item tertentu dalam dunianya Mas Harry, tentang inspirasinya dan apa yang dia pikirkan ketika membuat sebuah nama atau menciptakan tokoh. Seru aja rasanya, tahu kalau seorang penulis bisa mengubah hal-hal sepele jadi sesuatu yang menakjubkan :)

Harus aku akui, aku kangen dengan kisah penyihir fenomenal ini. Dan bermain di Pottermore mengizinkanku melarikan diri dari kenyataan dengan kembali memasuki dunia khayalanku itu. Faktanya aku memang berharap Hogwarts dan seluruh penghuninya itu benar-benar ada. Seumur-umur sekolah impianku adalah UGM dan Tuhan tahu aku takkan menukar kesempatan sekolah di sana dengan apapun kecuali LOA dari Hogwarts yang dikirim langsung oleh Profesor McGonagall. Hahahaha :D

14 October 2014

If Only We Were Different...

Posted by Icha Anindya at Tuesday, October 14, 2014 0 comments
君の姿は僕に似ている
静かに泣いてるように胸に響く
* 

I know exactly how it feels to know someone very similar to me. We're wearing the same masks. We've been hurt perhaps all our lives. We experienced unrequited love. We were loved by unwanted person. We're loved and despised at the same time. We reject people, we're constantly pathetic and in despair. We feel like loving and giving and dreaming only make us live in vain because we're rejected and unwanted by the world. Nothing goes as we planned, the universe never takes our side.

We're so similar, yet so different. You're like a queen. People adore you. Those who seem rejecting you are in fact love you more than you know. Or maybe I think they love you that much, it makes no different anyway. We're so similar, but I can't be like you. I can't be you. It's not that I want people to adore me. I want them to love me even when I look pathetic. I want them to feel such a curiosity to my pathetic thoughts. I want to be incomparable like you. You're one of a character in my personal fiction, but I can see you very clearly, how you put my existence among the shadows. I am always your shadow, Milady. You're invincible.

Ah, Milady. If only I never knew you. If only our fate is not crossed. If only I were someone different. If only we were just... different.



*Kimi wa Boku ni Niteiru - See-Saw

11 October 2014

Forget to Be Happy

Posted by Icha Anindya at Saturday, October 11, 2014 0 comments
If I let my mind flow, I will find myself easily absorbing every little details. As if I have four eyes, four ears and four brains. I absorb every information around me and I will keep them to myself. Thus, I can easily replay any memories, recall any long-forgotten moments. I am a time traveler, but I only travel to the past. I'm so good at looking things at the past, all that's left behind me, behind everyone.

I was hurt so many times until the pain becomes the most familiar thing to me now. I know I can just leave the past where it belongs and live my life, but from time to time, I start to realise that there are things that will never let you go, no matter how hard you try to escape. Even I tried to let go, they would never do so.

I see people around me get everything they want so easily. Seems like their paths are wide and clear, they don't have to walk in a-thousand-miles-long dark tunnel to find what they actually deserve. As for me, even after the long walk, I still don't get what I think I deserve. Even after years of pain, I don't get what I've always dreamed of. Sometimes I wonder how this life actually works.

People say happiness come from the inside. I don't know how it feels since I've forgotten how to be sincerely happy. And if someone offers me happiness, you know I will hide in my secret cave and dig up things that make me feel unhappy because unhappiness is the only thing I feel familiar with. My past, your past, they give me feeling that's unsurprisingly familiar. They give me unhappiness I can fully embrace.

People around me get their happiness so easily. And I still have to walk a long way in this dark tunnel. I start to feel tired. I'm tired of all uncertainties, of the status quo.

Guess I'm so fucked up right now.
 

Imaginary Fairytales Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review